TEKA-TEKI PKS

PKS dan Iklan Soeharto

Banyak orang mempertanyakan mengapa PKS mengklaim dirinya sebagai partai dakwah. Bahkan ada yang mengatakan kalau PKS ingin berdakwah, mengapa harus bikin partai?

Silakan berdakwah di masjid-masjid, di surau-surau atau di mushala-mushala. Tidak usah ikut-ikutan maju ke panggung politik. Pemahaman ini sering dikemukakan oleh para pengamat maupun politisi. Mereka menganggap PKS salah kaprah ketika ikut di kancah politik.

Sebetulnya hakikat dakwah adalah ishlah (dari bahasa Arab), artinya perbaikan. Bila kita ingin memperbaiki kualitas umat, kualitas masyarakat, berarti kita telah melakukan ishlah.

Dalam terminologi lain, kata ishlah juga bermakna reformasi. How to reform this nation. PKS yakin perbaikan itu dapat dilakukan secara gradual dengan meminimalisasi efek-efek destruktif tentunya. Jadi sebagai pendukung reformasi, PKS akan terus berjuang mengemban amanah reformasi dengan langkah-langkah dakwah.

Dakwah memiliki tahapan. Pertama, memperbaiki diri sendiri, kemudian keluarga, masyarakat, hingga memperbaiki negara. Inilah yang sekarang sedang dilakukan PKS. Istilah kami berdakwah di level negara.

PKS, misalnya, menganggap parlemen sebagai mimbar dakwah. Kebijakan atau keputusan yang dihasilkan parlemen harus membela rakyat dan berpihak kepada umat. Dengan terlibat dalam proses pengambilan keputusan di parlemen, PKS mengadvokasi dan memberikan manfaat kepada umat Islam dalam skala yang lebih luas.

PKS telah bergeser?
Akhir-akhir ini kerap muncul pertanyaan, apakah PKS telah bergeser dari ideologi dan asas Islam? Apakah sudah tergoda oleh dunia, lalu memunculkan iklan Soeharto, meninggalkan jati dirinya, melupakan khiththah perjuangan, dan seterusnya?

Dalam hal ini saya tegaskan asas PKS tetap Islam. PKS tetap berangkat dari ideologi Islam dengan moral dasar Islam dan tidak akan pernah bergeser dari prinsip-prinsip tersebut. Prinsip-prinsip ini sesungguhnya terinspirasi oleh Piagam Madinah di mana intinya memberikan kebebasan beribadah bagi seluruh warga sesuai keyakinan masing-masing, tidak saling mengganggu dan bersinergi antar komponen bangsa.

Dalam kiprah PKS ada yang disebut mabadi’ dan ada pula kaifiyah. Mabadi’ adalah hal-hal yang bersifat prinsip, yang tsabit atau kokoh. PKS memiliki AD/ART yang menjadi pedoman keorganisasian, falsafah dasar perjuangan dan platform pembangunan, yang semuanya bersumber dari ajaran Islam tentang keadilan.

Itulah mabadi’ PKS. Kaifiyah adalah sesuatu yang bersifat operasional. Untuk kasus Iklan PKS yang di antaranya menampilkan gambar Soeharto, sebenarnya DPP PKS belum pernah memutuskan atau mengusulkan beliau sebagai pahlawan. Pada sisi lain, kami memahami pemberian gelar pahlawan nasional adalah domain pemerintah, bukan PKS.

Iklan yang sempat ditayangkan dalam menyambut Hari Pahlawan selama tiga hari itu mendapat kritikan dan tanggapan sangat luas dari masyarakat dan pengamat. Sebenarnya iklan tersebut tidak bermaksud memahlawankan Soeharto. Desain awalnya ketika muncul gambar Bung Karno dan Pak Harto diikuti dengan kalimat: ”Mereka sudah melakukan apa yang mereka bisa”. Lalu, muncul gambar KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan diikuti kalimat: ”Mereka sudah memberikan apa yang mereka punya”, lalu muncul gambar selanjutnya dan seterusnya. Inilah konsep story board, iklan yang diperlihatkan kepada DPP.

Ungkapan yang menyatakan bahwa Soekarno dan Soeharto sudah melakukan apa yang mereka bisa adalah suatu ungkapan yang bersifat umum dan netral. Soal benar atau salah tindakan mereka kita serahkan penilaiannya kepada masyarakat. Namun, pada pengolahan iklan selanjutnya, kata guru bangsa dimunculkan terlebih dahulu dan di sinilah letak kontroversinya. Kami menganggap sangat wajar reaksi sebagian masyarakat terhadap penayangan iklan yang berdurasi hanya 30 detik itu serta masa tayang yang hanya selama tiga hari.

Hasil kreasi Tim Pemenangan Pemilu serta konsultan iklan dalam rangka memperingati Hari Pahlawan tersebut membuat banyak mata terbelalak. Maka tudingan PKS diduga menerima aliran dana dari Cendana dan berbagai spekulasi pun merebak, juga fitnah-fitnah lainnya.

Secara mabadi’ atau prinsip, tidak ada yang berubah dari PKS. Tidak ada keputusan yang menyatakan Soeharto adalah pahlawan. Tidak ada perubahan khitthah. Namun, secara kaifiyah, mungkin saja ada yang keliru.

Tentunya merupakan kewajiban kami mengoreksi dan sebagai bahan pertimbangan sebelum penayangan iklan-iklan berikutnya di media massa. PKS akan tetap berjuang untuk bersih, peduli dan profesional, sebagaimana hal tersebut menjadi salah satu tag line kami.

Dalam hal acara rekonsiliasi nasional, ini semacam proposal untuk cut off, memutus dendam sejarah agar pergantian rezim tidak diikuti oleh cercaan dan caci-maki antarpengikutnya. Betapa energi bangsa ini akan tersia-sia karenanya. Padahal, banyak permasalahan mendasar masih menghambat laju pembangunan bangsa kita.

Banyak pengamat mengatakan pada 2009 ini the end of a political generation, akhir dari suatu generasi politik. Jadi, tahun 2014 nanti akan muncul pendatang baru di panggung politik dengan mimpi baru mereka dan juga obsesi-obsesi yang baru pula.

Maka kami memandang jangan sampai kaki kita ditarik-tarik terus ke belakang. Mari menatap ke depan, membangun, dan memajukan bangsa, menghilangkan segala bentuk dendam sejarah. Ini agar ada kekuatan saling percaya di antara kita dan melangkah tanpa curiga-mencurigai.

Untuk inilah digagas rekonsiliasi dan perlu dicatat bahwa rekonsiliasi ini tidak bermaksud akan adanya pengampunan terhadap pelanggar hukum. Yang bersalah tetap harus diproses menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, tanpa pandang bulu.

Demikian pula dengan penghargaan terhadap tokoh-tokoh muda atau para pemimpin ”balita”, di mana hal ini telah kami canangkan sejak mukernas di Makassar. Ini adalah semacam stimulasi agar bermunculan sosok-sosok segar dan berkualitas dari lapisan anak muda di negeri ini. Pada sisi lain, kita melihat seluruh calon presiden yang telah muncul rata-rata telah berusia 60 tahun ke atas. Sebagai sebuah proposal bagi Indonesia yang lebih bernas, tentu sah-sah saja jika kami mengusulkan tokoh muda.

Kriteria 106 pemimpin ‘balita’ ini pun masih sangat sederhana. Pertama, mereka memiliki track record moral yang baik, belum terkontaminasi perilaku KKN. Memiliki kompetensi dan kualitas kepemimpinan dan telah mulai muncul di publik serta media massa.

Mereka aktif di berbagai bidang, apakah di LSM, kampus, pekerja sosial, budayawan, pengusaha dan sebagainya. Kami ingin mengatakan, saat ini setidaknya ada 106 pemimpin muda yang siap membuat bangsa ini maju dan bermartabat di hadapan bangsa-bangsa lain.

Inilah penjelasan kami terhadap beberapa kritik yang dialamatkan kepada PKS. Masukan-masukan tersebut sungguh kami hargai dan merefleksikan betapa eratnya rasa saling memiliki di antara kita, anak bangsa.

Secara substansi kritikan-kritikan tersebut menyangkut kaifiyah, di mana hal tersebut sangat dipengaruhi oleh dinamika kreativitas para kader dan simpatisan. Wilayah ideologis dan asas kami ialah Islam, tetap kokoh.

Ikhtisar:
- Prinsip PKS tidak pernah berubah sejak awal hingga kini.
- Tidak ada keputusan yang menyatakan Soeharto adalah pahlawan.
- Tidak ada perubahan khitthah, tetapi secara kaifiyah mungkin saja ada yang
keliru.

http://republika.co.id/koran/0/17994.html

4 Tanggapan

  1. selamat-selamat dan selamat memiliki rumah baru, kada bahabar wan dangsanak.Wah jadi pingin juga migrasi ke co.nr

    Banyak partai yang mengklaim untuk memperjuangkan rakyat kecil, semoga PKS tetap konsisten dengan visi dan misinya

    rakyat tinggi seperti saya belum ada partai yang memperjuangkan

  2. Insya ALLAH setiap langkah para pejuang pahlawan tanpa tanda jasa,pasti kami dukung demi kesejahteraan bangsa.viva guru,viva pak budi

  3. Duet Mega-Hidayat Bisa Jadi Pesaing Serius SBY

    Semarang (ANTARA News) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memiliki peluang terbesar untuk terpilih dalam Pemilihan Presiden 2009, namun bila Megawati Soekarnoputri nantinya berpasangan dengan Hidayat Nur Wahid, duet ini bakal menjadi pesaing serius SBY.

    “PDIP memiliki konstituen yang solid, dan bila massa ini bergabung dengan pendukung PKS untuk mengusung Megawati dan Hidayat sebagai capres dan cawapres, duet ini menjadi kekuatan hebat, yang mewakili kelompok nasionalis dan religius,” kata dosen FISIP Undip Semarang, Mochamad Yulianto, Senin.

    Menurut dia, massa PDIP yang solid akan memberi dukungan kepada Megawati yang berlaga pada pilpres. Posisinya sebagai ketua umum PDIP memudahkan dirinya untuk menggerakkan mesin partai hingga ke pelosok desa.

    Sementara itu, katanya, kinerja dan citra PKS yang terus membaik juga akan meningkatkan dukungan dari masyarakat, terutama pemilih dari partai berbasis massa Islam yang kecewa terhadap kinerja partai ini.

    Yulianto mengatakan, peluang terjadinya koalisi PDIP dengan PKS tetap terbuka, apalagi sebelumnya para petinggi kedua partai pernah menjajaki kerja sama.

    Kecenderungan yang terjadi, katanya, sejak empat tahun terakhir ini partai nasionalis berusaha merangkul kelompok religius, begitu pula partai Islam juga terus menggalang kekuatan dengan mendekati kelompok nasionalis dan lintas agama.

    “Dengan kecenderungan seperti itu, peluang koalisi PDIP dengan PKS untuk mengusung Megawati-Hidayat sebagai capres dan cawapres pada Pilpres 2009 sangat terbuka,” katanya.

    Menurut dia, pasangan tersebut akan menjadi rival berat bagi SBY apalagi bila Jusuf Kalla akhirnya memilih maju sendiri sebagai capres. “Jusuf Kalla sebagai representasi luar Jawa memberi andil cukup besar dalam sukses pemerintahan SBY,” kata Yulianto.

    Ia menjelaskan, setidaknya ada tiga modal penting bagi SBY untuk memenangi Pilpres 2009. SBY dinilai banyak pihak sukses memberantas praktik korupsi sekaligus menerapkan tata pemerintahan yang baik.

    Kedua, menurut dia, pemerintahan SBY juga sukses menciptakan stabilitas sosial politik, termasuk mengakhiri konflik secara damai dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM).

    “Memang perekonomian masih dirasakan sulit, tetapi banyak orang merasakan stabilitas keamanan, sosial, dan politik jauh lebih baik. Ini menjadi modal penting untuk perbaikan perekonomian di masa yang akan datang,” katanya.

    Ketiga, katanya lagi, pemerintahan SBY akhirnya menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium meskipun hal ini lebih banyak disebabkan oleh faktor eksternal, yaitu melorotnya harga minyak dunia belakangan ini.

    Menurut dia, peluang Prabowo Subianto, Wiranto, dan Sultan Hamengku Buwono X tidak terlalu besar, sebab keduanya belum memiliki infrastruktur politik yang mapan.(*)
    komentar saya
    kalau bener PKS dukung apalagi gandeng presiden perempuan, saya akan …….
    wah pokoknya gak sambung blas

  4. Duet Mega-Hidayat Bisa Jadi Pesaing Serius SBY

    Semarang (ANTARA News) – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memiliki peluang terbesar untuk terpilih dalam Pemilihan Presiden 2009, namun bila Megawati Soekarnoputri nantinya berpasangan dengan Hidayat Nur Wahid, duet ini bakal menjadi pesaing serius SBY.

    benarkah kabar ini? wah kabar tidak bagus bagi saya

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.